TRIBUNNEWSWIKI – Mengenal Nekrolisis Epidermal Toksik, Penyakit Kulit yang Bisa Berujung Kematian

<div ><div id='InformasiAwal'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) adalah penyakit yang menyerang kulit akibat munculnya reaksi hipersensitivitas dengan beragam penyebab dan kondisi medis tertentu. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan jaringan kulit yang cukup luas, yang dapat berujung pada infeksi berat dan kematian.

Tak hanya di kulit, NET juga bisa menyerang organ dalam dan menyebabkan gangguan pernapasan, perdarahan di saluran pencernaan, gangguan pada saluran kemih, dan sebagainya. <div ><div id='Penyebab'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Penyebab utama terjadinya NET adalah reaksi sensitivitas berlebihan (hipersensitivitas) dari sistem imun terhadap racun yang terakumulasi pada kulit, karena penggunaan atau konsumsi obat.

Sebagian besar kasus NET disebabkan oleh obat seperti antibiotik sulfonamid,allopurinol, NSAID, antimetabolit, antiretroviral, kortikosteroid, serta antikonvulsan (fenobarbital, asam valproat, fenitoin, dankarbamazepin). Selain itu, NET bisa juga disebabkan olehMycoplasma pneumoniae, virus herpes, transplantasi tulang dan sumsum. <div ><div id='Gejala'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div>

Gejala nekrolisis epidermal toksik muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah mengonsumsi obat tertentu diawali dengan gejala yang menyerupai infeksi saluran pernapasan bagian atas atau flu. Misalnya demam melebihi 39 derajat Celsius, nyeri tenggorokan, pilek, batuk, nyeri otot, mata merah, serta tubuh terasa lelah. Gejala awal ini berlangsung selama beberapa hari.

Selanjutnya, gejala yang muncul pada pengidap berupa ruam kulit berwarna merah yang menyebar ke seluruh tubuh, terutama pada wajah atau tungkai. Perluasan penyebaran ini berlangsung selama maksimal 4 hari. Luka kulit tersebut dapat berupa kulit merah yang datar dan meluas, luka berbentuk seperti papan target panah, atau luka lepuh.

Luka lepuh kemudian menjadi lapisan kulit yang terkelupas hingga menyisakan lapisan tengah kulit atau dermis yang berwarna merah gelap dan terlihat seperti luka bakar. Dalam kondisi ini, pengidap mengalami nyeri yang cukup parah dan merasa gelisah. Selain itu, organ lain seperti hati, ginjal, paru paru, sumsum tulang, dan sendi juga dapat mengalami gangguan.

<div ><div id='PengobatandanPencegahan'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Penanganan awal yang penting adalah memberikan sejumlah cairan melalui infus untuk memastikan pemgidap tidak kekurangan cairan dan untuk mencegah syok. Pengidap biasanya akan dirawat di ruang isolasi, agar tidak mudah tertular infeksi dari pengidap lain yang sedang dirawat.

Bagian kulit yang mengalami NET biasanya perlu diolesi larutan garam fisiologi setiap jam, lalu dilanjutkan dengan diolesi pelembap di atasnya. Hal ini penting untuk mencegah penguapan air yang berlebihan dari kulit. Jika jaringan kulit yang mati cukup luas, tak jarang operasi pengangkatan kulit mati perlu dilakukan untuk mencegah kulit mati tersebut menjadi tempat bersarangnya kuman penyakit.

Karena NET rentan terjadi infeksi, maka dokter akan memberikan antibiotik. Antibiotik yang diberikan oleh dokter biasanya antibiotik yang spektrumnya luas. Pengobatan NET umumnya membutuhkan waktu yang lama, bisa selama dua minggu, bisa juga sampai berbulan bulan.

Selain itu, perlu diketahui bahwa tak semua kasus NET dapat sembuh dengan sempurna. Apabila kamu memiliki alergi terhadap suatu obat, sebaiknya hindari paparan zat tersebut. Cara ini akan sangat membantu menurunkan risiko mengalami NET.

<div > Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.